← Back to selected work

Remote sensing · 3D web mapping · disaster visualization

Visualizing flash-flood impact in the Bhote Koshi Valley

A portfolio case study combining satellite imagery, terrain, and interactive web mapping to explore the Bhote Koshi flash-flood corridor at the Nepal–Tibet border.

Remote sensing · pemetaan web 3D · visualisasi bencana

Memvisualisasikan dampak banjir bandang di Lembah Bhote Koshi

Studi kasus portofolio yang menggabungkan citra satelit, medan, dan pemetaan web interaktif untuk mengeksplorasi koridor banjir bandang Bhote Koshi di perbatasan Nepal–Tibet.

The flood event

On 26 August 2026, a destructive outburst flood affected the Bhote Koshi–Trishuli river corridor across the Nepal–China border. The Planet Crisis Response catalogue describes the event as a flood following a preliminary assessment of an ice-and-rock avalanche in the upper catchment; it also explicitly states that the trigger remained under investigation at publication time.

This project focuses on the spatial context: a narrow river valley, surrounding steep terrain, and changes visible between the available baseline and post-event satellite acquisitions. It does not claim to identify the exact trigger, calculate damage, or verify casualty figures.

Why use 3D?

A 2D image can show a changed river channel, but it cannot easily communicate how tightly the river is confined by surrounding terrain. A 3D viewer helps reveal the relationship between slope, tributary confluences, valley confinement, and the likely route of flood material.

The opacity slider blends baseline and post-event imagery; orbit and grab-pan navigation let the user inspect the valley from different viewpoints. The top-down control fits the mapped area, while the measurement tool distinguishes slant distance across terrain from horizontal map distance.

How the viewer was made

  1. Image selection: Sentinel-2 Level-2A scenes were queried through a Google Earth Engine workflow. A 12 August 2026 scene was selected as the nearest usable baseline; a post-event composite spans 27 August–15 September because monsoon cloud cover limited optical imagery.
  2. Terrain preparation: Copernicus GLO-30 elevation data was exported for the area of interest and converted into a lightweight height grid.
  3. 3D web rendering: A Three.js mesh is built from the height grid and textured with aligned before/after imagery. The post-event layer uses controllable transparency.
  4. Interaction design: The viewer adds orbit, grab-pan, auto-fit bird's-eye view, labels, and terrain-aware measurement for exploratory use.

Benefits and intended use

The result is a compact way to communicate an event's landscape context in a portfolio, briefing, or teaching setting. It can help a non-specialist understand why valley geometry matters, while giving a GIS-oriented audience direct controls to inspect the imagery and terrain.

Interpretation boundary

This is an exploratory visualization, not an official damage assessment or incident report. Cloud cover, acquisition timing, 10 m imagery resolution, and unverified event information constrain interpretation. The viewer supports discussion and further investigation; it must not be used to establish causality, quantify losses, or make operational decisions.

Sources

Kejadian banjir

Pada 26 Agustus 2026, banjir bandang berdampak pada koridor sungai Bhote Koshi–Trishuli di sekitar perbatasan Nepal–Tiongkok. Katalog Planet Crisis Response mendeskripsikan kejadian ini sebagai banjir setelah penilaian awal mengenai longsoran es dan batuan di hulu; katalog tersebut juga secara jelas menyebutkan bahwa pemicu kejadian masih dalam investigasi saat dipublikasikan.

Proyek ini berfokus pada konteks spasial: lembah sungai yang sempit, medan curam di sekitarnya, dan perubahan yang terlihat di antara akuisisi citra baseline dan pascakejadian. Proyek ini tidak mengklaim dapat menentukan pemicu pasti, menghitung kerusakan, atau memverifikasi jumlah korban.

Mengapa memakai 3D?

Citra 2D dapat memperlihatkan perubahan jalur sungai, tetapi kurang mudah menunjukkan seberapa terkungkung sungai tersebut oleh medan di sekitarnya. Viewer 3D membantu memperlihatkan hubungan antara lereng, pertemuan anak sungai, kekangan lembah, dan jalur potensial material banjir.

Slider opacity memadukan citra baseline dan pascakejadian; navigasi orbit serta grab-pan memungkinkan pengguna memeriksa lembah dari sudut berbeda. Kontrol bird's-eye menyesuaikan cakupan area secara otomatis, sedangkan alat ukur membedakan jarak miring mengikuti medan dari jarak peta horizontal.

Bagaimana viewer dibuat

  1. Pemilihan citra: Citra Sentinel-2 Level-2A dicari melalui workflow Google Earth Engine. Citra 12 Agustus 2026 dipilih sebagai baseline terdekat yang dapat digunakan; komposit pascakejadian mencakup 27 Agustus–15 September karena tutupan awan monsun membatasi citra optik.
  2. Persiapan medan: Data elevasi Copernicus GLO-30 diekspor untuk area of interest lalu dikonversi menjadi grid tinggi yang ringan.
  3. Render web 3D: Mesh Three.js dibangun dari grid tinggi dan diberi tekstur citra before/after yang sudah sejajar. Layer pascakejadian memakai transparansi yang dapat dikontrol.
  4. Desain interaksi: Viewer menambahkan orbit, grab-pan, bird's-eye auto-fit, label, dan pengukuran berbasis medan untuk eksplorasi.

Manfaat dan penggunaan

Hasilnya adalah cara ringkas untuk mengomunikasikan konteks lanskap suatu kejadian dalam portofolio, briefing, atau materi pembelajaran. Viewer dapat membantu non-spesialis memahami mengapa geometri lembah penting, sekaligus memberi pengguna GIS kontrol langsung untuk memeriksa citra dan medan.

Batas interpretasi

Ini adalah visualisasi eksploratif, bukan penilaian kerusakan resmi atau laporan insiden. Tutupan awan, waktu akuisisi, resolusi citra 10 m, dan informasi kejadian yang belum tervalidasi membatasi interpretasi. Viewer ini mendukung diskusi dan investigasi lanjutan; tidak boleh digunakan untuk menetapkan kausalitas, menghitung kerugian, atau membuat keputusan operasional.

Sumber

Data & attribution. Sentinel-2 imagery is provided under the Copernicus programme. Terrain data: Copernicus GLO-30. Viewer design, code, and analysis © 2026 Meida Istiqomah.